Tanggal Hari Ini : 21 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Asep Setiaji Resto dengan Menu-Menu Kontinental
Rabu, 11 Mei 2011 22:42 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Ketika sedang bertandang  ke kos-kosan temannya, tanpa disengaja Asep Setiaji (22) bertemu dengan Titora, mantan seorang koki yang pernah bekerja di salah satu hotel berbintang di Jakarta.
Dalam percakapan yang bertemu tanpa sengaja tersebut, Titora mengaku pernah membuka usaha tempat makan kakilima di Bogor, tetapi tutup karena keterbatasan modal. Padahal usahanya cukup maju waktu itu. Titora kemudian mengajak Asep untuk bekerjasama membuka usaha kuliner dengan jenis masakan kontinental yang kini banyak peminatnya.
Menurut Titora, menu-menu kuliner kontinental yang disediakan di resto-resto biasanya banyak ditujukan kepada kalangan masyarakat menengah atas, selain karena bahan bakunya yang relative lebih mahal dari jenis masakan biasa, masakan kontinental juga harus berani bermain di bumbu karena itulah ciri khasnya. Ia berharap, jika rencana membuka gerai resto sederhana jadi dibuat ia akan menyediakan masakan kontinental dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah bawah dan kalangan mahasiswa di Bogor.
Alumnus D3 Supervisor Jaminan Mutu Pangan, IPB  ini tertarik dengan paparan Titora, dan mencoba menghitung-hitung keperluan modal yang diperlukan untuk membuka usaha ini. Ia kemudian  menginvestasikan uang sebesar Rp3 juta yang ia peroleh dari orangtuanya untuk membeli bahan baku, membeli peralatan dan menyewa tempat di Jl Malabar-Pajajaran Bogor.

Menu-Menu Sendiri
Salah satu keunikan resto mereka adalah menu-menu baru berciri khas continental, seperti  daging sapi, kambing, ayam dan ikan air tawar.
“Kami menciptakan menu sendiri dan kami beri nama menu-menu tersebut dengan menu  ikan lembah tropis, nasi De Crusted, dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Mereka mengakui bahwa  jenis makanan kontinental ini terbuat dari bahan dan bumbunya dengan harga relatif lebih mahal, tetapi ia tidak kehilangan akal, untuk bumbu-bumbu impor dan cukup mahal biasanya ia subtitusi dengan jenis bumbu dari lokal  yang rasanya menyerupainya. Dengan cara seperti itu, rasa dan aroma masakan continental tetap terasa dengan harga relative lebih murah, dengan kisaran Rp7ribu hingga Rp12 ribu per porsi.
Dengan cara seperti ini, resto ‘Lavanira Cruste’ ini mampu bersaing dengan resto-resto terkenal lainnya, apalagi ia juga menyediakan layanan antar untuk daerah sekitarnya. Salah satu keunikan resto ini adalah pelanggan juga dapat memasak sendiri menu yang dipesan, tentu dengan bimbingan koki yang mendampinginya.
Strategi ini ternyata mampu membuat resto Lavanira Cruste dapat mendulang omzet yang cukup setiap harinya, mecapai Rp500 hingga Rp600 ribu.
“Dari duapuluh menu yang kami tawarkan, yang paling banyak dipesan adalah nasi De Cruste. Cirikhas kami terletak pada saus yang kami racik sendiri. Bahkan ada pemilik restoran yang ingin mengetahui cara pembuatan saus dan bahan-bahan yang digunakan,”papar lelaki yang hobi membaca ini.
Karena pelanggan yang semakin banyak, sementara tempat yang disewa anak dari pasangan Hamdani dan Karlina ini terbatas membuat Asep berniat untuk membesarkan tempat usaha.
Keikutsertaannya dalam Program Go Entrepreneur yang digagas Pegadaian membuatnya memperoleh dana penguatan usaha sebanyak Rp8juta yang digunakan untuk membeli tenda yang lebih besar. Tenda ini ditempatkan di depan lokasi usaha sebelumnya sehingga usahanya terlihat lebih mencolok dan lebih mudah dilihat masyarakat di sepanjang jalan Malabar Bogor.
Agar usahanya berjalan lancer seperti yang diharapkan, ia memberlakukan system bagi hasil yang saling menguntungkan, yaitu  system  60:40 dari keuntungan bersih. Ia memperoleh pembagian hasil sebanyak 60 persen dari hasil bersih, sementara pengelolanya memperoleh hasil sebesar 40 persen dari hasil bersih yang diperoleh.

Saat ini, restonya telah mampu menyediakan lapangan kerja sebanyak 3 orang. Ia sendiri masih terlibat secara penuh yang memegang manajemen usaha dan datang setiap malam usai jam kuliahnya berakhir di Program Ekstensi Sarjana Agribisnis IPB. 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari