Tanggal Hari Ini : 21 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Soal Makan, Mari Belajar dari Fiji
Senin, 24 Oktober 2011 08:53 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Sebuah pridiksi yang semoga tidak terbukti, dimana Indonesia pada tahun 2020 mendatang akan kekurangan pangan beras sebanyak 136 juta kg per tahun. Pridiksi ini disampaikan oleh  Prof.Dr.Ir. Sumardjo dalam sebuah seminar tahun 2009 lalu di IPB, Bogor.

Boleh jadi pridiksi Prof Sumardjo benar, karena saat ini saja komsumsi beras nasional terus meningkat, bahkan konsumsi beras masyarakat Indonesia per kapita juga semakin besar. Berdasarkan kajian Prof Sumardjo,  konsumsi beras per kapita rakyat Indonesia mencapai 139 kg per kapita/tahun, sementara berdasarkan hitungan idealnya adalah hanya 87 kg per kapita per tahun.

Keadaan ini telah membuat para pengkaji kebijakan pangan nasional ketar-ketir, karena dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, maka dampak buruk kelangkaan pangan dapat berakibat sangat serius.

Ragam Makanan  

Beberapa pihak di Indonesia, khususnya yang dilakukan oleh Departemen Pertanian RI mencoba melakukan penganekaragaman pangan, tetapi tidak berhasil. Hal ini karena adanya ‘budaya makan nasi’ yang begitu mengakar, karena rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi yang baik.

Soal keaneka ragaman pangan, kuncinya sebenarnya terletak pada kemampuan memasyarakatkan kombinasi asupan pangan yang tepat, serta memungkinkan terjadinya keanekaragaman dengan tetap mengedepankan pemenuhan gizi dengan baik.

Di Indonesia, pernah terjadi zonasi keanekaragaman pangan secara alamiah oleh masyarakat Indonesia secara alamiah pada masa awal kemerdekaan, namun terjadi pembiaran pandangan yang kurang baik terhadap keanekaragaman pangan, sehingga keanekaragaman pangan kian lama kian terkikis. Misalnya masyarakat Madura dengan konsumsi beras jagung, Papua dan Maluku dengan sagu, atau masyarakat pedalaman Sumatra dan Kalimantan dengan umbi-umbi hutan, dan pedalaman Jawa yang mengkonsumsi beras gaplek. Pandangan yang muncul, mereka yang tidak mengkonsumsi beras adalah masyarakat pra sejahtera, tergolong masyarakat terbelakang,  atau bahkan disebut masyarakat miskin.

Hal ini justru terjadi sebaliknya dengan negara Fiji, sebuah negara yang paling maju perekonomiannya diantara negara kepulauan di Pasifik. Mereka sejak awal telah memasyarakatkan  makanan kombinasi yang ideal, bergizi dan memenuhi syarat-syarat kesehatan.

Mau tahu apa makanan pokok masyarakat Fiji?  Bahan pokoknya antara lain, ubi jalar, talas, ikan laut, sayuran, serta daun talas. Produk-produk tersebut di Indonesia memang jenis pangan yang banyak dikonsumsi kalangan miskin di Indonesia, tetapi tidak dengan di Fiji.

Jenis makanan tersebut adalah menu mewah yang menjadi santapan sehari-hari.

Fiji, negara kecil  yang berpenduduk tak lebih dari satu juta jiwa ini merupakan negara penghasil pertanian, hasil hutan, perikanan, dan sumber mineral, dengan income per kapita pada tahun 2006 lalu mencapai lebih dari US$ 6.200 dan terus meningkat dari tahun ke tahun, bandingkan  dengan income per kapita masyarakat Indonesia yang diperkirakan akan mencapai US$3000 pada tahun 2010 ini.

Indonesia memiliki keanekaragaman yang sangat luar biasa. Namun menjadi ironis jika juga banyak terjadi  wabah kelaparan  dan busung lapar di negeri yang kaya raya ini. Soal pangan, oleh banyak kalangan masyarakat  Indonesia sering diolok-olok, sebagai negeri kaya yang miskin  karena kurang pandainya mendeversifikasi pangan dengan baik.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari